Kamis, 25 Februari 2016

Futur

Doc. Google

Jum'at kemarin menyicip Sholat Jumat di daerah New Cairo, nuansa di daerah ini berbeda dengan wilayah Old Cairo. Komplek ini jauh lebih asri dibanding tempat kami (mahasiswa Indonesia) biasa bermukim, jalanan yang luas dan tak macet serta sedikitnya kendaraan yang berlalu lalang, taman-taman di tepi jalan, juga bunga hias yang nampak terawat di depan-depan setiap perumahan, juga suasana yang tenang dan jauh dari kebisingan.

Oh... Maaf, bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Ketika sholat Jumat kemarin aku menangkap pesan dari sang Khotib yang rasanya pesan ini sudah lama sekali ku cari-cari jawabannya dan berulang kali ku tanyakan ke banyak orang, semuanya memang menjawab tetapi belum satupun yang benar-benar memuaskan pertanyaanku.

Sang Khotib dalam pembukaan inti khutbahnya menyampaikan, "Manusia itu memiliki sifat dasar untuk cenderung malas, mudah capek, bersantai-santai dan futur."

Pembukaannya sudah menarik untuk disimak, kemudian makin kudongakkan kepalaku untuk menyimak dan mencoba menerka apa kira-kira yang akan disampaikan.

Sang Khotib melanjutkan, "Setiap kita tentu ingin mengatasi masalah-masalah tersebut yang datang berulang kali namun kadang bingung bagaimana mengatasinya. Apa solusinya? Apa solusinya? "alaikum bil jama'ah (hendaklah kalian hidup berjama'ah)" kemudian beliau memperluas pembahasan tentang ini.

Ya, rasanya memang begitu, dengan berjamaah saat kita futur tentu ada yang mengingatkan, saat kita malas ada yang menyemangati dan saat kita lalai tentu akan termotifasi oleh jama'ah kita yang terus melakukan ketaatan. Mempunyai komunitas dengan visi yang sama untuk memonitor ketaatan bisa menjadi salah satu jawaban untuk persoalan ini.

Aku kemudian berfikir, apa jadinya jiwa yang lemah ini tanpa jama'ah?
Hidup dalam jama'ah pun sering lalai, entah bagaimana jika aku memilih berjuang sendiri?

Al-Faqir ilaLlah
Kairo, Asy-Syathibi Center
08 November 2015

Kebenaran

doc. google

Saya pernah menyimak beberapa statement yang kemudian setelah (juga) menyimak beberapa realita memancing saya untuk menuliskan sedikit yang tersirat di kepala.

"Adakah kebenaran yang absolut? Apakah setiap kebenaran itu bersifat relatif?"

Namun bagi saya Ada kebenaran absolut dan ada juga kebenaran relatif, dan kebenaran absolut Allah-lah sang empunya.

Ya, kebenaran absolut akan sentiasa ada dan Allah-lah sang empunya, sedang kebenaran yang kita yakini tak lebih dari sebatas kebenaran yang relatif. Bisa jadi hal yang benar menurut kita adalah memang benar, namun tak menutup kemungkinan sesuatu yang benar menurut kita adalah salah.

Manusia memang kadang memiliki kebenaran yang absolut, tapi itu tak akan jauh dan pasti berkaitan dengan ke-absolut-an milik Allah.


Adapun kebenaran relatif manusia biasanya berada dalam beberapa wilayah, seperti dari nalar berfikir, selera, nilai dan hal-hal lain seputar itu.


Ketika mengedepankan nalar "bocah", kita lebih sering kekeh untuk meng-absolut-kan kebenaran yang kita miliki dan menganggap salah suatu kebenaran milik orang lain. “Pokoknya pendapat saya benar dan kamu salah, TITIK.” “Selera saya adalah selera terbaik untuk semua orang.” “Cara yang saya pakai adalah yang paling benar, yang lainnya salah” “Penafsiran kalimat ini harus begini” dan sebagainya.


Oh come on... ayolah mecoba sedikit mengesampingkan gaya ke"bocah"an itu, karena akan banyak imbas yang kurang baik di sana, seperti, memupuk keras kepala, menggerogoti kemesraan dengan sesama, kurang bisa menghargai orang lain, membuat diri susah berkembang dan lainya.


Terkait hal yang prinsipil kita memang berhak untuk kekeh mempertahankan keyakinan kita, namun untuk hal-hal yang bukan masuk ranah perkara prinsipil rasanya sangat tidak pas jika kemudian meng-absolutkan-nya dalam sebuah pendapat.

Poinnya adalah bagaimana kita menanamkan rasa saling menghargai untuk menciptakan atmosfer yang hangat dalam sebuah sosial dengan tidak meng-absolut-kan kebenaran yang kita yakini.


Mencoba memahami dan menghargai hal yang dilakukan dan diyakini orang lain selama tidak mendobrak ranah prinsipil rasanya sangat penting dan ini bisa menjadi pembelajaran untuk menuju proses kedewasaan yang lebih matang.

Yah... tulisan ini hanyalah buah fikir seorang fakir yang kebenarannya juga relatif, karena ke-absolutan dalam perkara benar-salah ialah milik Allah.



Amar Aziz
Asy-Syathibi Center,
Kairo 23/12/2015

Memori


Baru saja membaca berita kematian Buthros Buthros Ghali, seorang negarawan Mesir yang pernah menjabat sebagai Sekjen PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Ada kenangan yang muncul dibenakku ketika kembali mendengar nama Buthros Buthros Ghali. Fikiranku terbang beribu kilo meter menjelajah samudera kembali ke kampung kecil halaman belakang rumah.

Yang kuingat, sering menjelang sore aku diajak Abiku jalan-jalan ke kebun belakang rumah melihat tanaman kopi dan merica milik kami. Aku lupa saat itu kisaran usiaku berapa.

Setiap jalan-jalan Abiku selalu memberi maklumat dan tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Seperti kegiatan kami jalan-jalan di kebun, saat itu aku dikenalkan Buthros Buthros Ghali sebagai sekjen PBB, dan pengetahuanku diupdate saat Sekjen PBB berganti ke Kofi Anan. 

Mungkin terdengar sedikit aneh aku yang masih kecil bukannya diajak bicara tentang kartun bergambar atau dongeng-dongeng rakyat. Aku dulu pun sempat protes, mengapa orang tuaku membesarkanku tidak seperti orang tua kawan-kawan yang lain dilingkunganku yang membebaskan anak-anaknya bermain sesuka mereka. Barulah aku sadar bahwa mereka tidak ingin anaknya menjadi orang yang biasa-biasa saja, harus memiliki perbedaan.

Candaan-candaan seorang ayah selalu lengket di sosoknya, hanya candaan itu selalu disisipi dengan pengetahuan baru. Ya, aku salut dengan sosoknya yang meski aku masih kecil tapi tak dianggap remeh dengan hanya membicarakan hal-hal yang kecil.

Saat masih kecil aku sudah dikenalkan orang-orang sekelas sekjen PBB, siapa itu Try Soetrisno, bagaimana kejamnya tentara Serbia membantai Muslim, sudah dikenalkan Yusuf Qardhawi, kisah heroik Yahya Ayyash dan masih banyak lagi.

Toh walaupun begitu waktu bermainku dengan kawan-kawan sebaya tidak kurang, main kelereng, patilele, bentengan, glundungan, main karet, gambar, mancing, mandi di rawa dan banyak lagi. 

Aku ingat, dulu aku punya hari-hari dengan jadwal yang tersusun dengan orang tuaku. Ada malam dengan jadwal main perang-perangan, ada malam dengan jadwal cerita nabi, ada dengan jadwal menghafal lagu-lagu. Ya itu diantara waktu-waktu ekstraku setelah jam wajib belajar malam, mengaji dan hafalan. Yah... walaupun hanya diterangi lampu teplok atau lampu ublik yang kadang dihari-hari tertentu baru menggunakan lampu patromak. Jangan tanyakan soal listrik!

Banyak memori yang sering berputar ulang mengingat masa-masa kecil di usiaku yang sudah tidak kecil lagi ini. Hampir empat tahun tidak berjumpa dengan keluarga membuat makin sering memori-memori berkelebat mencari tuannya.


Kairo 21 Februari 2016