Kamis, 25 Februari 2016

Memori


Baru saja membaca berita kematian Buthros Buthros Ghali, seorang negarawan Mesir yang pernah menjabat sebagai Sekjen PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Ada kenangan yang muncul dibenakku ketika kembali mendengar nama Buthros Buthros Ghali. Fikiranku terbang beribu kilo meter menjelajah samudera kembali ke kampung kecil halaman belakang rumah.

Yang kuingat, sering menjelang sore aku diajak Abiku jalan-jalan ke kebun belakang rumah melihat tanaman kopi dan merica milik kami. Aku lupa saat itu kisaran usiaku berapa.

Setiap jalan-jalan Abiku selalu memberi maklumat dan tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Seperti kegiatan kami jalan-jalan di kebun, saat itu aku dikenalkan Buthros Buthros Ghali sebagai sekjen PBB, dan pengetahuanku diupdate saat Sekjen PBB berganti ke Kofi Anan. 

Mungkin terdengar sedikit aneh aku yang masih kecil bukannya diajak bicara tentang kartun bergambar atau dongeng-dongeng rakyat. Aku dulu pun sempat protes, mengapa orang tuaku membesarkanku tidak seperti orang tua kawan-kawan yang lain dilingkunganku yang membebaskan anak-anaknya bermain sesuka mereka. Barulah aku sadar bahwa mereka tidak ingin anaknya menjadi orang yang biasa-biasa saja, harus memiliki perbedaan.

Candaan-candaan seorang ayah selalu lengket di sosoknya, hanya candaan itu selalu disisipi dengan pengetahuan baru. Ya, aku salut dengan sosoknya yang meski aku masih kecil tapi tak dianggap remeh dengan hanya membicarakan hal-hal yang kecil.

Saat masih kecil aku sudah dikenalkan orang-orang sekelas sekjen PBB, siapa itu Try Soetrisno, bagaimana kejamnya tentara Serbia membantai Muslim, sudah dikenalkan Yusuf Qardhawi, kisah heroik Yahya Ayyash dan masih banyak lagi.

Toh walaupun begitu waktu bermainku dengan kawan-kawan sebaya tidak kurang, main kelereng, patilele, bentengan, glundungan, main karet, gambar, mancing, mandi di rawa dan banyak lagi. 

Aku ingat, dulu aku punya hari-hari dengan jadwal yang tersusun dengan orang tuaku. Ada malam dengan jadwal main perang-perangan, ada malam dengan jadwal cerita nabi, ada dengan jadwal menghafal lagu-lagu. Ya itu diantara waktu-waktu ekstraku setelah jam wajib belajar malam, mengaji dan hafalan. Yah... walaupun hanya diterangi lampu teplok atau lampu ublik yang kadang dihari-hari tertentu baru menggunakan lampu patromak. Jangan tanyakan soal listrik!

Banyak memori yang sering berputar ulang mengingat masa-masa kecil di usiaku yang sudah tidak kecil lagi ini. Hampir empat tahun tidak berjumpa dengan keluarga membuat makin sering memori-memori berkelebat mencari tuannya.


Kairo 21 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar